Akulturasi Kebudayaan Indonesia pada Masa Hindu-Buddha


Akulturasi Kebudayaan Indonesia pada Masa Hindu-Buddha

Akulturasi Kebudayaan Indonesia pada masa Hindu-Buddha - Tahukah Anda bahwa Candi Borobudur adalah salah satu contoh dari bentuk akulturasi? Bentuk candi-candi di indonesia pada hakekatnya adalah punden berundak yang merupakan unsur indonesia asli.
Akulturasi Kebudayaan Indonesia pada Masa Hindu-Buddha

Candi Borobudur terletak di desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi ini adalah Candi Buddha terbesar kedua setelah Angkor Wat di Kamboja. Candi borobudur didirikan mulai tahun 770 atas peritah Raja Wisnu dari dinasti Syailendra dan selesai dibangun pada tahun 842 pada masa pemerintahan Raja Samaratungga.

Bentuk dasar Candi Borobudur adalah punden berundak yang disesuaikan dengan kosmologi Buddha Mahayana. Tinggi candi 42 m dengan bersusun tingkat 3 tingkat (kamadhatu, rupadhatu, dan arupadatu). Relief candi terdapat pada pagar tembok yang panjang seluruhnya 4 km. Puncak candi berupa sebuah stupa yang sangat besar, sedangkan arcanya sekitar 500-an buah. Candi Borobudur ini adalah salah satu contohnya adalah akulturasi. Untuk dapat berakulturasi masing-masing kebudayaan harus seimbang, begitu juga untuk kebudayaan Hindu-Buddha dari India dengan kebudayaan Indonesia Asli.

Akulturasi Kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia


Tahukah anda bagaimana pengertian akulturasi dan terjadinya akulturasi? Akulturasi suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing tersebut lambat laun diterima dan diolah dalam kebudayaannya sendiri. Oleh karena itu, agar dapat berakulturasi masing-masing kebudayaan harus seimbang. Begitu juga kebudayaan Hindu-Buddha dari India dengan kebudayaan Indonesia asli.

Dengan masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia telah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan masyarakat indonesia. Namun, sebelum masuknya kebudayaan Hindu-Buddha, Indonesia telah memiliki kebudayaan sendiri. Indonesia memilki local genius. Local genius adalah suatu kecakapan dalam menerima kebudayaan asing dan mengolahnya menjadi suatu kebudayaan yang selaras dengan kepribadian bangsa. Jadi, dengan masuknya kebudayaan Hindu-Buddha ke Indonesia telah memperkaya perbendaharaan kebudayaan indonesia. Pengaruh kebudayaan dan agama Hindu-Buddha terhadap masyarakat Indonesia meliputi berbagai bidang.

Bentuk Akulturasi dan Contohnya

Berikut contoh hasil akulturasi antara Hindu-Buddha dan kebudayaan Indonesia asli.

Akulturasi Kebudayaan dibidang Seni Bangunan

Di Indonesia pada umumnya bangunan candi merupakan bentuk akulturasi antara unsur budaya Hindu-Buddha dan unsur budaya Indonesia Asli. Bangunan yang megah, patung-patung perwujudan dewa atau Buddha, serta bagian-bagian candi dan stula adalah unsur-unsur India.

a. Candi
Akulturasi Kebudayaan Indonesia pada Masa Hindu-Buddha

Candi merupakan sebuah bangunan yang berasal dari zaman kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia. Pengertian candi pada kedua pengaruh tersebut sangat berbeda. Untuk candi yang dapat pengaruh Hindu, kata Candi berasal dari kata candika yaitu salah satu nama dari Dewi Durga (dewi maut). Candi juga berasal dari kata cinandi yang berarti makam.

Pembuatan candi pada masa pengaruh Hindu diperuntukkan sebagai makam dari orang-orang terkemuka atau para raja yang wafat. Adapun candi dalam agama Buddha merupakan sebuah tempat pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa melaui Sang Buddha Gautama. Bisakah anda menyebutkan contoh-contoh candi Hindu dan candi Buddha?

Contoh candi Hindu adalah Candi Prambanan, Candi Gebang, kelompok Candi Dieng, Candi Gedong Songo, Candi Pantaran, dan Candi Cangkuang. Adapun contoh Candi Buddha adalah Candi Borobudur, Candi Kalasan, Candi Sewu, Candi Sari, Candi Plaosan, Candi Banyunibo. Candi Sumberawan, dan Candi Muara Takus.

Pada umumnya, bangunan candi terdiri dari 3 bagian yaitu sebagai berikut.
1) Bhurloka, adalah bagian bawah candi yang melambangkan kehidupan fana.
2) Bhurvaloka, adalah bagian candi yang melambangkan tahap pembersihan dan pemurnian jiwa.
3) Svarloka, melambangkan tempat para dewa atau jiwa yang telah disucikan.

Walaupun struktur bangunan semua candi sama, ada perbedaan antara bentuk Candi di Jawa Tengah dan bentuk Candi di Jawa Timur.

Ciri-ciri candi langgam Jawa Tengah :

1) Bentuk bangunannya tambun (besar)
2) Atapnya nyata berundak-undak
3) Puncaknya berbentuk ratna atau stupa
4) Gawang pintu dan relung berhiaskan kala makara.
5) Reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalis.
6) Letak candi di tengah halaman
7) Kebanyakan candi menghadap ke timur
8) Candi terbuat dari batu andesit

Ciri-ciri candi langgam Jawa Timur :

1) Bentuk bangunannya ramping
2) Atapnya merupakan perpaduan tingkatan
3) Puncaknya berbentuk kubus
4) Makara tidak ada, pintu dan relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala kala
5) Reliefnya timbul sedikit saja dan lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit
6) Letak candi dibelakang halaman
7) Kebanyakan menghadap ke barat
8) Candi terbuat dari bata merah/taracota.

Bila dilihat dari susunannya, ada 3 corak bangunan candi yaitu sebagai berikut.

1) Corak candi Jawa Tengah bagian selatan menggambarkan susunan masyarakat yang feodal, raja sebagai pusat. Berikut adalah candi-candi yang berada di Jawa Tengah bagian selatan.

  • Candi Kalasan, peninggalan Buddha tertua di Pulau Jawa dan sebagai persembahan kepada Dewi Tara.
  • Candi Borobudur, memiliki suatu sistem yang terbagi menjadi 3 bagian sebagai berikut.
  1. Kamadhatu (bagian candi yang paling bawah), merupakan tingkatan dimana manusia masih terikat oleh karma dan nafsu.
  2. Rupadhatu(bagian tengah candi), merupakan tingkatan dimana manusia masih terikat oleh rupa dan bentuk.
  3. Arupadhatu(bagian candi yang paling atas), merupakan kaitan dimana manusia tidak lagi terikat oleh rupa dan bentuk. Manusia telah terbebas dari segala keingunan untuk bersiap-siap masuk nirwana.
  • Candi Mendut
  • Kompleks Candi Rara Jonggrang (Prambanan)
  • Kompleks Candi Sewu
  • Kompleks Candi Plaosan
  • Candi Sukuh, didirikan pada masa Kerajaan Majapahit, candi ini paling jelas memperlihatkan unsur-unsur Jawa asli dibandingkan corak Hindu sendiri.
2) Corak candi Jawa Tengah bagian utara menggambarkan susunan masyarakat mendekati demokratis yang ditunjukkan dari bentuk bangunan dan ukurannya yang sama besar. Berikut adalah candi-candi yang terletak di Jawa Tengah bagian utara.
  • Candi Canggal, pada candi ini terdapat Prasasti Canggal yang menceritakan dinasti Sanjaya.
  • Kompleks Candi Gedong Songo, dibangun sebagai penghormatan terhadap Trimurti khususnya dewa Syiwa. Di depan Candi Syiwa ada bangunan kecil untuk Nandi (lembu kendaraan dewa Syiwa).
  • Kompleks Candi Dieng, sejumlah pakar sejarah mengaitkan kompleks Candi Dieng dengan dinasti Sanjaya.
3) Corak Candi Jawa Timur menggambarkan susunan masyarakat federal, dimana raja berdiri dibelakang mempersatukan daerah-daerah dalam rangka membentuk kesatuan. Berikut adalah candi-candi yang terletak di Jawa Timur.
  • Candi Badut, dekat Kota Malang.
  • Candi Kidal, setinggi 12,5 meter dengan pahatan cerita Garuda Mencuri Amarta (Air Kehidupan). Candi Kidal sebagai tempat pendarmaan Anusapati (raja kedua Kerajaan Singasari).
  • Candi Jago, tempat pendarmaan Wisnuwardhana. Ciri-ciri yang ada pada candi ini menunjukkan munculnya kembali unsur-unsur budaya asli Indonesia.
  • Candi Jawi, tempat pendarmaan Kertanegara, corak arsitektur memperlihatkan campuran Hindu-Buddha dan budaya asli.
  • Candi Singasari, tempat pendarmaan Kertanegara. Hal yang menarik dari Candi Singasari ini adalah bagian bawah candi tampak belum selesai, sedangkan atas telah terpahat secara sempurna. Bagian atas tersebut menggambarkan puncak Mahameru (kediaman para dew dalam mitoligi Hindu). Candi Singasari dibuat pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.
  • Candi Sumberawan, didirikan sebagai penghargaan atas kunjungan Hayam Wuruk ke daerah kaki Gunung Arjuna.
  • Kompleks Candi Panataran, didirikan sejak pemerintahan raja Srengga dari Kediri (sekitar tahun 1200 M) dan mengalami renovasi pada masa Majapahit (sekitar tahun 1415).

Bisakah anda menyebutkan candi-candi yang ada di Sumatra? Selain candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur ada candi-candi di pulau Sumatra. Candi-candi di Sumatra ini kebanyakan bercorak Buddha. Berikut candi-candi tersebut.

  • Kompleks Candi Muara Takus. Candi bercorak Buddha Mahayana ini memiliki stupa. Candi Mahligai sebagai bangunan utama. Candi ini didirikan pada masa Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaan.
  • Kompleks Candi Padang Lawas, disebut juga dengan nama Blaro Bahal. Nama tersebut mengacu pada sekolah agama Buddha Mahayana di Nepal.
  • Kompleks Candi Muara Jambi. Kompleks candi terdiri dari 12 bangunan dan semua memperlihatkan Corak Buddha Mahayana. Didirikan semasa Kerajaan Melayu yang pada waktu itu Kerajaan Sriwijaya telah kehilangan pamornya.

Dengan banyaknya candi yang ada di Nusantara ini harus kita jaga dan pelihara. Bagaimana cara Anda menjaga dan memelihara bangunan-bangunan tersebut (terutama candi)? Kita bisa menjaganya dengan merawat dan tidak merusak bangunan tersebut.

b. Stupa
Akulturasi Kebudayaan Indonesia pada Masa Hindu-Buddha

Tahukah anda, untuk apakah dibangun bangunan Stupa? Bangunan Stupa pada masa India Kuno digunakan sebagai makam atau tempat penyimpanan abu kalangan bangsawan/tokoh tertentu. Stupa dikalangan Buddha menjadi tempat penyimpan abu Sang Buddha sendiri. 

Pada masa pemerintahan Asoka, dibangun banyak stupa untuk menandakan kedudukan Buddha sebagai agama utama di India. Di Asia Timur atau Asia Tenggara stupa didirikan sebagai pengakuan terhadap Buddhisme diwilayah  yang bersangkutan. Stupa dapat dijadikan petunjuk seberapa luas Buddhisme tersebar disitu wilayah. Sebagai lambang perjalanan Sang Buddha masuk ke nirwana. Berikut adalah 3 bagian dari bangunan stupa.

  1. Andah, melambangkan dunia bawah tempat manusia yang masih dikuasai hawa nafsu.
  2. Yanthra, merupakan suatu benda untuk memusatkan pikiran saat bermeditasi.
  3. Cakra, melambangkan nirwana tempat para dewa.

Jika dibandingkan dengan India dan Asia Timur, bangunan stupa di Indonesia memiliki kekhasan tersendiri. Ditempat lain bangunan stupa berdiri sendiri, sedangkan di Indonesia bangunan stupa menjadi bagian dari candi atau kompleks candi tertentu seperti Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, dan kompleks Candi Sewu.

Akulturasi Seni Rupa dan Seni Ukir

Akulturasi Kebudayaan Indonesia pada Masa Hindu-Buddha

Masuknya pengaruh India juga membawa perkembangan dalam bidang seni rupa, seni pahat, dan seni ukir. Hal tersebut dapat dilihat pada relief atau seni ukir yang dipahatkan pada bagian dinding-dinding candi. 

a. Relief
Relief dipahatkan pada kaki candi atau tubuh candi. Relief ini merupakan hasil seni pahat sebagai pengisi bidang pada bagian dinding candi yang melukiskan suatu cerita atau kisah. Berikut beberapa relief yang ada pada candi.
Akulturasi Kebudayaan Indonesia pada Masa Hindu-Buddha

1) Relief Candi Borobudur
  • Relief Karmawibhanga, menceritakan sebab akibat perbuatan baik dan buruk manusia. Dipahatkan pada kaki candi yang tertimbun.
  • Relief Lalitavistara, menceritakan riwayat Sang Buddha Gautama sejak lahir sampai khotbah pertama si Taman Rusia. Dipahatkan pada dinding sebagian lorong pertama.
  • Relief Jatakamala-Awadana, berupa kumpulan sajak yang menceritakan perbuatan Sang Buddha Gautama dan para Bodhisatwa semasa hidupnya. Dipahatkan pada dinding sebagian lorong pertama dan kedua.
  • Relief Gandhawiyuha-Bhadracari, menceritakan usaha Sudjana mencari ilmu yang tinggi sampai Sudjana bersumpah mengikuti Bodhisatwa Samanthabhadra. Dipahatkan pada dinding lorong kedua sampai keempat.
2) Relief Candi Rara Jonggrang (Prambanan)
  • Cerita Ramayana dipahatkan pada pagar Langkan Candi Siwa dan diteruskan pada pagar langkan Candi Brahma.
  • Cerita Kresnayana, dipahatkan pada pagar Langkan Candi Wisnu.
3) Relief Candi Jago
Relief yang ada di Candi Jago berisi cerita Kresnayana, Parthayajna, dan Kunjarakarna. Selain itu, juga dijumpai tokoh-tokoh punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) yang setia menyertai seorang kesatria.

4) Relief Candi Surawana
Relief candi ini berisi cerita Arjuna Wiwaha dan adegan Sri Tanjung yang dibunuh oleh Sidapaksa.

5) Relief Candi Panataran
Relief candi ini berisi cerita Ramayana dan Kresnayana.

Relief kala makara pada candi dibuat sangat indah. Dasar hiasan relief kala makara yaitu motif binatang dan tumbuh-tumbuhan. Hal tersebut sudah dikenal sejak masa sebelum Hindu. Binatang-binatang tersebut dipandang suci, sehingga sering diabadikan dengan cara dilukis.

b) Arca
Akulturasi Kebudayaan Indonesia pada Masa Hindu-Buddha

Tujuan pembuatan arca/patung adalah untuk mengabadikan tokoh tertentu. Patung/arca merupakan batu yang dipahat sedemikian rupa, sehingga membentuk makhluk tertentu (biasanya berupa patung atau binatang). Berikut peninggalan-peninggalan patung bercorak Hindu-Budha.

1) Peninggalan Arca Bercorak Hindu
Tokoh yang akan dibuat arca tidak ditampilkan sebagaimana mestinya, namun dibuat menyerupai dewa atau dewi tertentu. Berikut arca bercorak Hindu. 
  • Arca dewa atau dewi antara lain patung Trimurti dan Dewi Durga.
  • Arca Airlangga, dalam wujud Dewa Wisnu sedang menunggang Garuda.
  • Arca Ken Dedes, dalam wujudnya Dewi Prajna Paramita
  • Arca Kertanegara, dalam wujud Joko Dolok dan Amoghapasa. 
  • Arca Raden Wijaya, dalam wujud dewa Syiwa.
  • Arca Dwarapala, dalam wujud raksasa memegang gada. 
2) Peninggalan Arca Bercorak Buddha
Arca bercorak Buddha pada umumnya melambangkan Sang Buddha Gautama. Patung Sang Buddha ini tampil dalam berbagai posisi sikap tangan dan menghadap mata angin tertentu. Sikap tangan tersebut mengandung makna. Berikut bentuk Arca bercorak Buddha.
  • Arca Aksobhya, dengan sikap bumisparcamudra, yaitu sikap tangan menyentuh bumi sebagai saksi, arca ini menghadap ke timur.
  • Arca Ratnasambhawa, dengan sikap waramudra, sikap tangan sedang memberi anugerah, arca ini menghadap ke selatan.
  • Arca Amithaba, dengan sikap dhayanamudra, yaitu dengan sikap tangan sedang bersemedi, arca ini menghadap ke barat
  • Arca Amoghasidi, dengan sikap abhayamudha, yaitu sikap tangan menenteramkan, arca ini menghadap ke Utara.
  • Arca Wairicana, dengan sikap dharmacakramudra, yaitu sikap tangan memutar roda darma, arca tersembunyi dalam stupa.

Akulturasi Kebudayaan dibidang Bahasa dan Tulisan

Pengaruh Hindu-Buddha di bidang bahasa dan sastra begitu terasa. Bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa yang dibawa dari India menjadi tonggak sejarah bangsa Indonesia dari zaman praaksara ke zaman sejarah. Bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa ini banyak digunakan oleh para raja dan para brahmana untuk mengabadikan suatu momen besar pada suatu prasasti. 

Masuknya bangsa India (budaya Hindu) ke Nusantara mengantarkan masyarakat Nusantara ke budaya tulis atau masa Aksara. Budaya tulis ini menggunakan bahasa Sansekerta dengan huruf Pallawa, yaitu sejenis tulisan yang juga ditemukan diwilayah India Selatan. Huruf Pallawa ini dalam perkembangannya menjadi huruf dasar dari huruf-huruf lain di Indonesia seperti huruf Kawi, Jawa Kuno, Bali Kuno, Lampung, Batak, dan Bugis-Makassar. 

Bahasa Sansekerta tidak berkembang seperti huruf Pallawa dikarenakan bahasa Sansekerta digunakan dilingkungan istana dan digunakan para brahmana dalam upacara keagamaan. Jejak sejarah berupa tulisan ini dapat dilihat melalui prasasti, kitab, dan manuskrip (naskah).

a. Prasasti
Akulturasi Kebudayaan Indonesia pada Masa Hindu-Buddha

Prasasti dari bahasa Sansekerta berarti pujian. Prasasti merupakan piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama, memuat informasi tentang sejarah, peninggalan, atau catatan tentang sebuah peristiwa.  Prasasti tidak hanya ditulis diatas batu, tetapi juga dituliskan diatas lempengan emas, perunggu, tembaga, daun-lontar, daun Nipah, kulit pohon, daluang (kertas tradisional yang dibuat dari serat-serat tanaman yang memiliki tekstur kasar). 

Pada prasasti-prasasti yang ditemukan terdapat unsur India dengan unsur budaya Indonesia. Misalnya ada prasasti dengan huruf Nagari (India) dan huruf Bali Kuno (Indonesia). Di Indonesia prasasti dapat dikelompokkan sesuai bahasanya. Berikut pengelompokan prasasti sesuai dengan bahasanya. 

  1. Prasasti dalam bahasa Sansekerta, misalnya prasasti yang dipahatkan pada tiang batu (yupa) di wilayah Kerajaan Kutai, prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara (Ciaruteun, Jambu, Kebun Kopi, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu, dan Cidanghiang).
  2. Pasasti yang menggunakan bahasa Jawa Kuno, misalnya Prasasti Kedu, Prasasti Dinoyo, dan prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno.
  3. Prasasti dalam bahasa Melayu Kuno, banyak ditemukan di Sumatera, misalnya Prasasti Kedukaan Bukit, Prasasti Talang Tuo, dan Prasasti Telaga Batu (semuanya peninggalan Kerajaan Sriwijaya).
  4. Prasasti dalam bahasa Bali Kuno, digunakan oleh kerajaan-kerajaan Bali. Contoh prasasti dalam huruf Bali Kuno yaitu Prasasti Julah dan Prasasti Ugrasena.
Akhir-akhir ini banyak prasasti yang hilang dan disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Bagaimana sikap Anda dengan adanya prasasti-prasasti yang hilang karena dicuri tersebut? Dan bagaimana seharusnya situs-situs tersebut tetap terjaga?

b. Kitab
Akulturasi Kebudayaan Indonesia pada Masa Hindu-Buddha

Pengenalan bahasa dan tulisan di Nusantara memungkinkan pujangga Nusantara menghasilkan karya-karya sastra berupa kitab. Kitab yaitu kumpulan kisah, catatan atau laporan tentang suatu peristiwa, kadang didalamnya terdapat juga mitos. Pada masa Hindu-Budha kitab ditulis diatas daun lontar. 

Tulisan ditulis dalam rangkaian puisi yang indah dan terbagi kedalam sebuah bait yang disebut dengan Pupuh. Adapun ungkapan yang ditulis dalam bentuk puisi biasa disebut kakawin. Kitab dapat dikategorikan sebagai karya sastra kuno yang dalam perkembangannya di Indonesia terdiri dari tahap-tahap berikut.

  1. Tahap pertama atau kesusastraan tertua, lahir pada masa Kerajaan Mataram Kuno. 
  2. Tahap kedua, lahir pada masa Kerajaan Kediri.
  3. Tahap ketiga, lahir pada zaman Majapahit.

Tahukah anda, apa yang dimaksud dengan sastra? Sastra berasal dari bahasa Sansekerta, sastra yang berarti "teks yang mengandung instruksi atau pedoman" dari kata dasar "sas" yang berarti "instruksi atau ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata sastra digunakan untuk merujuk kepada kesusastraan yaitu sebuah jenis tulisan yang memiliki arti ataupun suatu keindahan tertentu. 

Berdasarkan isinya, kesusastraan dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu tutur (pitutur kitab keagamaan), kitab hukum, dan winacarita (cerita kepahlawanan). Bentuk winacarita sangat terkenal di Indonesia, terutama kitab Ramayana dan Mahabharata. Berkembangnya karya sastra yang bersumber dari Ramayana dan Mahabharata melahirkan seni pertunjukan wayang kulit (wayang Purwa). 

Di Indonesia pertunjukan wayang kulit (khususnya di Jawa) sudah mendarah daging. Isi dan cerita pertunjukkan wayang banyak mengandung nilai-nilai yang bersifat edukatif. Kita bisa menerapkan nilai-nilai edukatif tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Cerita dalam pertunjukan wayang berasal dari India, namun wayangnya asli dari Indonesia. Seni pahat dan ragam hias yang ada pada wayang disesuaikan dengan seni yang ada di Indonesia. Selain bentuk dan ragam hias wayang, muncul juga tokoh-tokoh pewayangan yang khas Indonesia. Misalnya tokoh-tokoh punakawan seperti Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. 

Tokoh-tokoh punakawan tersebut tidak ditemukan di India. Adanya perkembangan seni sastra yang sangat cepat didukung oleh penggunaan huruf Pallawa, seperti dalam karya-karya sastra Jawa kuno. 

c. Manuskrip
Akulturasi Kebudayaan Indonesia pada Masa Hindu-Buddha

Manuskrip yaitu naskah tulisan tangan peninggalan masa lalu yang berisi berbagai hal seperti cerita kepahlawanan, hukum, upacara keagamaan, silsilah, syair, mantra sihir, dan resep obat-obatan. Contoh manuskrip yaitu sebagai berikut.
  1. Pustaha, yaitu naskah Batak yang ditulis dengan aksara Batak dan ditulis diatas lembaran kulit kayu alim.
  2. I la Galigo, yaitu sebuah naskah kuno dari Sulawesi Selatan yang merupakan episode (kepahlawanan) yang berisi kisah tentang Kerajaan Luwu pada masa pra-Islam

Akulturasi Sistem Kepercayaan

Masyarakat di kepulauan Indonesia sejak zaman praaksara telah mengenal simbol-simbol yang bermakna filosofi, misalnya kalau ada yang meninggal didalam kuburannya disertakan juga dengan benda-benda sebagai bekal kubur. Masyarakat pada waktu itu sudah memercayai adanya kehidupan sesudah meninggal yakni sebagai roh halus. Oleh karena itu, roh nenek moyang dipuja oleh orang yang masih hidup (animisme)
Akulturasi Kebudayaan Indonesia pada Masa Hindu-Buddha

Setelah masuknya pengaruh India ke Nusantara kepercayaan animisme tidak punah seperti pada fungsi candi. Fungsi candi di India adalah sebagai tempat pemujaan, sedangkan di Indonesia disampingnya sebagai tempat pemujaan candi juga sebagai makam raja atau untuk menyimpan abu jenazah raja yang telah meninggal. Itulah sebabnya peripih tempat penyimpanan abu jenazah raja didirikan patung raja dalam bentuk mirip dewa yang dipujanya. 

Hal tersebut jelas merupakan perpaduan antara fungsi candi di India dan tradisi pemakaman serta pemujaan roh nenek moyang di Indonesia. Bentuk bangunan lingga dan Yoni merupakan tempat pemujaan terutama untuk orang-orang Hindu penganut Syiah ane. Secara filosofis lingga dan Yoni adalah lambang kesuburan dan lambang kemakmuran.

Akulturasi Sistem Pemerintahan

Akulturasi Kebudayaan Indonesia pada Masa Hindu-Buddha

Sistem pemerintahan yang dianut di Indonesia sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha ke Indonesia adalah sistem pemerintahan desa yang dipimpin oleh seorang kepala suku dan dipilih berdasarkan kekuatan dan kelebihannya. Dengan masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia muncul konsep dewa raja. Pimpinan tertinggi dalam sebuah kelompok adalah seorang raja yang diyakini sebagai titisan atau reinkarnasi dewa (dewa Syiwa maupun dewa Wisnu). Konsep ini melegitimasi pemusatan kekuasaan pada raja.

Dari konsep tersebut, di Indonesia mulai mengenal sistem pemerintahan kerajaan dengan raja sebagai pimpinan tertinggi dibantu sejumlah pejabat yang bertugas sesuai fungsinya (misalnya urusan ketatanegaraan, agama, hukum, dan lain-lain). Salah satu bukti adanya akulturasi dalam bidang pemerintahan, misalnya seorang raja harus berwibawa dan dipandang memiliki kekuatan gaib seperti pada pimpinan masa sebelum Hindu-Buddha. Karena raja memiliki kekuatan gaib, maka raja dipandang dekat dengan dewa. Raja kemudian disembah dan kalau raja sudah meninggal rohnya dipuja.

Akulturasi Bidang Pendidikan


Pengaruh Hindu-Buddha juga turut mengubah sistem pendidikan di Indonesia. Pendidikan ini diawali dengan datangnya para pendeta India ke Indonesia. Kedatangan para pendeta tersebut untuk memberikan pendidikan mengenai agama Hindu-Budha kepada masyarakat Indonesia. Kemudian para pendeta tersebut mendirikan tempat-tempat pendidikan yang disebut dengan pasmaran. 
Akulturasi Kebudayaan Indonesia pada Masa Hindu-Buddha

Di pasmaran inilah masyarakat mendapatkan berbagai ilmu agama dan pengetahuan. Dalam perkembangannya, pasmaran tersebut mencetak para lulusan yang terpelajar. Kemudian para pelajar tersebut menyebar hingga ke India untuk memperdalam agama Hindu-Budha. Setelah kembali dari India mereka menyebarkan agama Hindu-Budha. Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa setempat sehingga mudah untuk dipahami.

Demikianlah artikel tentang akulturasi kebudayaan Hindu Budha di Indonesia. Semoga bermanfaat.

0 Response to "Akulturasi Kebudayaan Indonesia pada Masa Hindu-Buddha"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel